Selasa, 12 Juni 2012



Usaha beternak burung puyuh 
yang akan saya ceritakan merupakan usaha skala kecil. Boleh dikatakan sebagai usaha sampingan, namun bisa juga sebagai usaha sekedar bertahan hidup atau mungkin hidup yang lebih dari sekedar, di atas bumi manusia Indonesia tercinta ini.


Saya mempunyai keinginan beternak burung puyuh sebenarnya sudah lama, sudah sejak sebelum gempa, sekitar lebih dari tiga tahun yang lalu. Namun, waktu itu kalau saya tanya ke peternak lama, selalu dijawab bahwa PT sudah tidak menerima peternak baru.
Kemudian baru saat-saat ini saya mendapat kesempatan ikut bergabung menjadi peternak burung puyuh.


Sebelum positif menjadi peternak, terlebih dulu saya muter-muter ke beberapa peternak lama. Dengan tujuan melihat-lihat dan tanya-tanya seputar hal beternak burung puyuh, tentang bagaimana proses pertama kali beternak, apa saja yang perlu disiapkan, bagaimana pemeliharaannya, dan tentu saja bagaimana hasil secara ekonomis apakah menguntungkan atau tidak.
Selain itu, saya juga tanya-tanya ke beberapa mantan peternak (yang berhenti beternak), mengapa sampai berhenti beternak burung puyuh.


Sedikit sebagai gambaran, bahwa rata-rata peternak burung puyuh adalah petani-petani yang boleh dikatakan sebagai petani kecil, tapi tentu saja tidak semua peternak berawal dari petani, ada yang pedagang, sopir, dll namun tetap dalam kategori kecil… Lain dengan ayam potong, selama yang saya tahu, kalau peternak ayam potong biasanya mereka memang sudah “juragan” dari awalnya.
Hal itu karena untuk beternak burung puyuh ini kita bisa memelihara dengan jumlah populasi minimal yaitu 1000 ekor, tentu dengan modal yang relatif terjangkau.
Kemudian bagaimana dengan saya? Saya bukan petani kecil, juga bukan juragan besar.. hehe… saya beternak burung puyuh berawal dari status saya sebagai pengangguran.


Beternak burung puyuh yang saya jalani ini berbentuk semi kemitraan / plasma dengan mengambil hasil produksi telurnya. Ada peternak dan ada perusahaan yang yang kedua pihak saling bekerjasama timbal balik. Kemitraan dalam beternak burung puyuh ini pihak peternak masih ada unsur “membeli”, baik itu bibit / DOQ, pakan pembesarannya (stater), maupun pakan teluran (layer) selama produksi telur burung puyuh belum bisa menutup pakan layer yang dibutuhkan.















Bentuk kandang puyuh

Beternak Puyuh

A. Produktivitas Puyuh
Produktivitas sangat menentukan keberlangsungan beternak puyuh. Jika produksi telur diatas garis standar, maka kegiatan beternak tersebut dapat memberikan keuntungan. Sebaliknya, jika produksi telur puyuh di bawah garis standar, bisa dipastikan bahwa peternakan tersebut akan mengalami kerugian. Pasalnya, biaya operasional yang telah dikeluarkan untuk memelihara puyuh tidak memberikan hasil yang optimal.

B. Angka Mortalitas
Puyuh adalah makhluk hidup. Karena itu, jika terjadi kematian akibat salah perawatan atau serangan penyakit adalah hal yang wajar. Namun, jika jumlah puyuh yang mati sudah cukup banyak dan melebihi nilai ambang batas kematian, peternak akan menderita kerugian, bahkan kebangkrutan. Karena itu, agar peternak memperoleh keuntungan dari beternak puyuh, maka jumlah puyuh yang mati minimum 40% dari populsai yang dipelihara.

C. Tingkat Konsumsi Pakan (Feed Intake)
Angka tingkat konsumsi pakan puyuh (feed intake) berada pada kisaran 20-22 gram per ekor per hari. Artinya, jika jumlah pakan yang dikonsumsi oleh puyuh melebihi jumlah tersebut, maka telah terjadi pemborosan pakan. Hal ini dapat menyebakan peternak mengalami kerugian karena biaya pakan mencakup 80% dari biaya operasional dalam beternak puyuh.

Berikut beberapa hal yang menyebabkan terjadinyan pemborosan pakan.

1. Desain atau konstruksi tempat pakan (feeder) yang tidak tepat. 
Karena puyuh suka mengais-ngais, sehingga desain tempat pakan yang tidak tepat bisa membuat pakan banyak tercecer atau terbuang
2. Bentuk atau jenis pakan, 
apakah butiran (crumble) atau tepung (mash). Kami lebih menyarankan peternak untuk memberikan pakan berbentuk tepung, karena pakan bentuk ini tidak mudah terlepas Sebagaimana budidaya unggas lainnya, usaha ini sangat menjanjikan. Lihat saja, produk utama puyuh—telur—tak hanya ada di pasar atau supermarket tapi juga banyak dijajakan di kaki lima.
Soal permintaan pasar, tinggi sekali dan baru terpenuhi sebagian kecil saja.

Ketua Asosiasi Peternak Puyuh Indonesia (APPI), Slamet Wuryadi menggambarkan, di Jabodetabek (Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi) saja, permintaan telur puyuh mencapai 8 juta butir per minggu dan baru bisa terpenuhi 2,1 juta butir.

Telur puyuh juga menjadi sumber protein hewani yang murah. Harganya di pasaran berkisar Rp 250 – 300 per butir. “Jika kita mengkonsumsi 3 butir telur puyuh maka serapan nutrisinya sama dengan mengkonsumsi 1 butir telur ayam kampung,”jelasnya

Karena itulah, menurut Slamet, usaha peternakan puyuh perlu terus dikembangkan. “Sehingga kebutuhan telur puyuh bisa tercukupi semuanya,” ujar pria yang mulai beternak puyuh sejak 2003 ini.
Lagipula, tambah Slamet, ada produk lain disamping telur yang akan mempertebal kantong peternak. Yaitu daging dan kotoran yang bisa digunakan sebagai pupuk atau pakan ikan. Puyuh yang sudah tidak produktif lagi pada usia 18 bulan, dipasaran dagingnya bisa dijual seharga Rp 3.500 per ekor. Sedangkan untuk kotoran, dari 1.000 ekor puyuh bisa menghasilkan 8 kilogram kotoran yang laku dijual Rp 500 per kilogram.

Peluang pemasaran masih terbuka lebar, permintaan bibit dan telur puyuh terus meningkat sedangkan jumlah produksi telur puyuh masih jauh di bawah kebutuhan pasar.

Sistem kemitraan menjadi solusi bagi pemula yang ingin mencoba ternak puyuh ini.
karena dengan penerapan kemitraan, peternak tidak perlu repot memasarkan produk telur ataupun daging, karena setiap mitra diberikan jaminan bahwa telur yang dihasilkan mitra (plasma) akan dibeli oleh peternak inti.